Tampilkan postingan dengan label tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2019

➢ Jaringan Tumbuhan Ciri Ciri Fungsi Struktur Macam Macam

Sel tumbuhan yang telah terdiferensiasi akan berkelompok membentuk jaringan sesuai dengan bentuk dan fungsinya. Pengelompokan jaringan tumbuhan didasarkan pada bentul sel, letak, fungsi, asal, serta tingkat perkembangannya. Berdasarkan hal-hal tersebut, jaringan pada tumbuhan meliputi jaringan meristem dan jaringan permanen.

Ciri-ciri Jaringan Tumbuhan

Jika dibandingkan dengan jaringan hewan, jaringan tumbuhan memiliki ciri yang jelas terlihat berbeda apabila dilihat dari beberapa aspek, yaitu :

Jaringan TumbuhanJaringan HewanSel penyusunTerdiri dari sel hidup dan sel matiTerdiri dari sel hidup sajaEnergi yang dibutuhkanLebih sedikit dibandingkan jaringan hewanLebih banyak dibandingkan jaringan tumbuhanJenis nutrisi/makananDidapatkan dari hasil fotosintesis sendiri (autotrof)Didapatkan dari luar (heterotrof)PertumbuhanMemiliki pertumbuhan yang tak terbatasMemiliki pertumbuhan yang terbatasPeranMemberikan dukungan mekanisMemberikan dukungan gerakanJenis jaringan
  • Jaringan epidermis
  • Jaringan parenkim
  • Jaringan penyokong
  • Jaringan pengangkut
  • Jaringan epitel
  • Jaringan ikat
  • Jaringan otot
  • Jaringan saraf
  • Fungsi Jaringan pada Tumbuhan
  • Melindungi bagian tubuh tumbuhan.
  • Membantu proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
  • Memperkuat tubuh tumbuhan.
  • Membantu mengedarkan sari-sari makanan atau zat-zat yang terdapat pada tumbuhan ke seluruh tubuhnya.
  • Membantu menyimpan cadangan makan pada tumbuhan.
  • Mendukung segala aktivitas tumbuhan.
  • Struktur Jaringan Tumbuhan1. Jaringan Meristem
  • Jaringan meristem tersusun atas sekelompok sel yang tetap dalam masa pertumbuhan dan terus-menerus akan membelah.
  • Ciri-ciri jaringan meristem adalah sebagai berikut :
  • Tersusun atas sel-sel muda yang sedang dalam fase pembelahan dan pertumbuhan.
  • Umumnya tidak ada ruang antarsel.
  • Bentuk sel bulat, lonjong, atau poligonal dengan susunan dinding sel yang tipis.
  • Masing-masing sel kaya akan sitoplasma dan mengandung satu atau lebih dari satu inti sel.
  • Berdasarkan cara terbentuknya, jaringan meristem dibedakan menjadi tiga, yaitu :
  • Promeristem, telah ada ketika tumbuhan masih dalam masa embrio.
  • Meristem primer, jaringan yang aktif membelah, terdapat pada ujung batang, ujung akar, dan kuncup tumbuhan dewasa. Menyebabkan pertambahan panjang tumbuhan.
  • Meristem sekunder, terbentuk dari jaringan meristem primer. Menyebabkan pertambahan besar tubuh tumbuhan.
  • Berdasarkan letaknya, jaringan meristem dibedakan menjadi tiga, yaitu :
  • Meristem apikal, terdapat di ujung akar dan ujung batang tumbuhan. Menghasilkan pertambahan tinggi dan panjang tumbuhan (pertumbuhan primer).
  • Meristem lateral, berada sejajar dengan lingkaran ditemukannya organ. Menghasilkan pertumbuhan sekunder.
  • Meristem interkalar, terdapat diantara ruas-ruas batang menghasilkan pertambahan panjang pada ruas-ruas batang.
  • 2. Jaringan Permanen
  • Jaringan meristem baik yang merupakan primer atau sekunder akan berdiferensiasi menjadi jaringan permanen. Nantinya, jaringan permanen tidak tumbuh dan memperbanyak diri lagi.
  • Berdasarkan fungsinya, jaringan permanen dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan penyokong (kolenkim dan sklerenkim), jaringan pengangkut (xilem dan floem), dan jaringan gabus.
  • Macam-macam Jaringan Tumbuhan1. Jaringan Epidermis (Jaringan Pelindung)
  • Merupakan jaringan terluar yang menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan.
  • Ciri-ciri jaringan epidermis :
  • Bentuk sel seperti balok.
  • Umumnya terdiri dari satu lapisan.
  • Terletak pada lapisan paling luar.
  • Tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga stomata.
  • Tersusun atas sel-sel hidup.
  • Dinding sel bagian luar yang berbatasan dengan udara mengalami penebalan
  • Berfungsi untuk melindungi jaringan lainnya.
  • 2. Jaringan Parenkim (Jaringan Dasar)
  • Merupakan jaringan yang terbentuk dari meristem dasar dan memiliki bentuk serta fungsi yang bervariasi.
  • Ciri-ciri jaringan parenkim :
  • Sususan sel tidak rapat.
  • Tidak selalu berkloroplas.
  • Tersusun atas sel-sel hidup.
  • Letak inti sel mendekati dasar sel.
  • Mampu bersifat meristematik karena dapat membelah diri.
  • Memilki banyak vakuola.
  • Ukuran selnya besar.
  • Terdapat banyak rongga antarsel.
  • Berdasarkan bentuknya, jaringan parenkim dibedakan menjadi :
  • Parenkim palisade, bentuknya memanjang dan tegak.
  • Parenkim bunga karang, bentuknya menyerupai bunga karang.
  • Parenkim bintang, bentuknya menyerupai bintang dengan ujung jaringan saling berhubungan.
  • Parenkim lipatan, bentuk dinding sel melipat ke dalam.
  • Berdasarkan fungsinya, jaringan parekim dibedakan menjadi :
  • Parenkim fotosintesis, didalamnya terdapat sel yang mengandung krorofil disebut klorenkim.
  • Parenkim penyimpanan bahan makanan.
  • Parenkim penyimpanan air.
  • Parenkim penyimpanan udara, didalamnya terdapat sel yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim.
  • Parenkim transportasi.
  • 3. Jaringan Penyokong (Jaringan Penunjang)
  • Merupakan jaringan yang memiliki dinding yang tebal untuk menunjang tubuh tumbuhan agar dapat berdiri dengan kokoh.
  • Terdiri dari jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim.
  • Jaringan Kolenkim
  • Merupakan jaringan penguat pada organ tumbuhan yang masih aktif dalam pertumbuhan dan
  • Ciri-ciri jaringan kolenkim :
  • Tersusun dari sel-sel hidup.
  • Bentuk sel memanjang.
  • Terdapat pada batang, daun, bunga, dan buah tumbuhan yang masih muda dan belum berkayu.
  • Memiliki dinding sel yang lunak, lentur, dan tidak berlignin.
  • Dinding selnya mengalami penebalan yang tidak teratur.
  • Sebagian besar dinding sel terdiri dari senyawa selulosa.
  • Jaringan Sklerenkim
  • Merupakan jaringan penguat pada organ tumbuhan yang sudah tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
  • Ciri-ciri jaringan sklerenkim :
  • Tersusun dari sel-sel mati.
  • Mengandung senyawa lignin, sehingga sel-selnya kuat dan keras.
  • Tidak mengandung protoplas.
  • Dinding sel tebal.
  • Berdasarkan bentuknya, sel sklerenkim dibedakan menjadi :
  • Sklereid (sel batu), sel mati, berbentuk bulat, dan berdinding keras (tahan terhadap tekanan).
  • Fiber (serabut sklerenkim), berbentuk panjang, terdapat pada permukaan batang.
  • jaringan tumbuhan parenkim kolenkim sklerenkim

    Jaringan Parenkim, Kolenkim, dan SklerenkimSumber gambar: qsstudy.com

    4. Jaringan Pengangkut
  • Merupakan jaringan yang bertugas untuk mengangkut zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
  • Jaringan pengangkut terdiri dari :
  • Jaringan Xilem (Pembuluh Kayu)
  • Tersusun oleh trakeid, trakea, pembuluh xilem, parenkim kayu, dan sklerenkim kayu.
  • Berfungsi untuk mengangkut air dan garam mineral dari dalam tanah menuju daun.
  • Jaringan Floem
  • Tersusun oleh sel tapis, pembuluh tapis, sel pengiring, sel parenkim kayu, dan sklerenkim kayu
  • Berfungsi untuk mengangkut zat-zat hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh.
  • Xilem dan floem membentuk suatu ikatan pembuluh pengangkut, yaitu :
  • Ikatan pembuluh kolateral, xilem dan floem letaknya bersebelahan dalam suatu jari-jari. Berdasarkan keberadaan kambium, ikatan pembuluh kolateral terbagi atas :
  • kolateral terbuka, diantara xilem dan floem terdapat kambium.
  • kolateral tertutup, diantara xilem dan floem tidak terdapat kambium.
  • Ikatan pembuluh bikolateral, xilem diapit floem, terletak pada radius yang sama.
  • Ikatan pembuluh konsentris, xilem dan floem berbentuk cincin silindris. Terdapat dua bentuk dalam ikatan pembuluh konsentris, yaitu amfikribal (floem mengelilingi xilem) dan amfivasal (xilem mengelilingi floem)
  • Ikatan pembuluh radial, xilem dan floem letaknya bersebelahan, namun tidak dalam jari-jari yang sama.
  • pembuluh xilem dan floem

    Pembuluh Xilem dan FloemSumber gambar: vivadifferences.com

    5. Jaringan Gabus
  • Merupakan jaringan yang bertugas melindungi jaringan lain agar tidak kehilangan banyak air.
  • Terbentuk dari kambium gabus atau felogen. Pembentukan jaringan ke arah dalam berupa sel hidup atau disebut dengan feloderm, sedangkan pembentukan jaringan ke arah luar berupa sel mati atau disebut dengan felem.
  • jaringan gabus

    Jaringan GabusSumber gambar: Diastuti, R. 2009. Biologi untuk SMA/MA Kelas XI. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: vii + 298 hlm.

    Sistem Jaringan Tumbuhan

    Jaringan-jaringan yang telah disebutkan pada subtopik diatas, bersatu dan membentuk kelompok yang disebut dengan sistem jaringan. Sistem jaringan pada tumbuhan terdiri atas :

  • Sistem jaringan dermal
  • Membentuk luar tumbuhan, seperti epidermis dan periderm.
  • Ciri jaringan dermal, yaitu dindingnya terdiri dari zat kitin, lilin, dan suberin.
  • Sistem jaringan pembuluhTerlibat dalam pengangkutan air dan mekanan  ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
  • Sistem jaringan dasarMencakup jaringan yang membentuk bahan dasar yang menyelimuti jaringan pembuluh. Jaringan dasar pada tumbuhan yaitu jaringan parenkim.
  • Kontributor: Dinda Muthi Selina, S.Si.Alumni Biologi FMIPA UI

    Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan


    Source : https://www.studiobelajar.com/jaringan-tumbuhan/

    Sabtu, 26 Januari 2019

    ➥ Sel Tumbuhan Bagian Bagianorganel Ciri Ciri Fungsi Struktur Lengkap

    Sel tumbuhan memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi, umumnya berukuran mikroskopis, artinya hanya dapat dilihat dibawah pengamatan mikroskop. Meskipun sel merupakan unit terkecil, namun di dalamnya masih terdapat bagian-bagian yang lebih kecil lagi dan berperan dalam melakukan aktivitas hidup sel itu sendiri atau disebut dengan organel.

    Jenis organel pada sel tumbuhan bermacam-macam dan masing-masing memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda. Organel-organel apa saja yang menyusun sel tumbuhan? Bagaimana karakteristik yang dimilikinya? Apakah fungsi dari setiap organel yang menyusun sel tumbuhan tersebut? Mari kita simak penjelasannya pada subtopik dibawah ini.

    Ciri-ciri Sel Tumbuhan
  • Memiliki dinding sel.
  • Memilki plastida (kloroplas, kromoplas, dan leukoplas).
  • Memilki vakuola yang besar.
  • Ukuran nukleusnya lebih kecil dibandingkan vakuola.
  • Bentuk selnya tetap.
  • Penyimpanan energinya dalam bentuk butiran pati.
  • Fungsi Sel Tumbuhan
  • Mengatur semua aktivitas tumbuhan.
  • Berperan langsung dalam proses tumbuh kembang tumbuhan.
  • Menyimpan dan membawa sifat genetik tumbuhan.
  • Menyusun dan menjaga bentuk tubuh tumbuhan.
  • Struktur Sel Tumbuhan

    Secara umum, struktur sel terbagi atas sel eukariotik dan sel prokariotik. Sel tumbuhan tergolong ke dalam sel eukariotik. Sel eukariotik merupakan sel makhluk hidup bernukleus yang dibungkus oleh membran. Ciri-ciri sel eukariotik adalah sebagai berikut:

  • Sitoplasma dan nukleoplasma terpisah.
  • Bahan gen berada di dalam inti sel.
  • Memiliki organel seperti badan golgi, mitokondria, retikulum endoplasma, ribosom, dan kloroplas (pada tumbuhan).
  • Bahan gen (DNA) berbentuk seperti pita ganda yang tersusun spiral saling melilit (double helix).
  • Bagian-bagian/Organel Sel Tumbuhanorganel sel tumbuhan

    Organel Sel TumbuhanSumber gambar: Ferdinand, F. & M. Ariebowo. Praktis Belajar Biologi 2. 2009. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: viii + 250 hlm.

    1. Dinding sel
  • Dinding sel tipis dan berlapis-lapis.
  • Diselaputi oleh membran sel/membran plasma.
  • Dibedakan atas dinding sel primer dan dinding sel sekunder.
  • Dinding Sel PrimerDinding Sel Sekunder
  • Tersusun atas selulosa, hemiselulosa, pektin, dan beberapa senyawa lainnya
  • Tersusun atas protoplasma dan beberapa senya lainnya
  • Memiliki kandungan selulosa yang lebih sedikit
  • Memiliki kandungan selulosa yang lebih banyak
  • Hanya dimiliki oleh sel muda yang sedang bertumbuh
  • Hanya dimiliki oleh sel dewasa.
  • Terdapat plasmodesmata yang menghubungkan antara protoplasma satu dengan lainnya.
  • Memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Mencegah sel menggembung melewati batas maksimum.
  • Melewati berbagai jenis zat untuk kebutuhan sel.
  • 2. Membran Sel/Membran Plasma
  • Terletak diantara dinding dan isi sel sitoplasma.
  • Tersusun dari senyawa kimia lipoprotein (gabungan senyawa lemak dengan protein).
  • Bersifat selektif permeabel, artinya membran sel hanya dapat dimasuki oleh zat atau molekul tertentu saja.
  • Memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Batas antarsel.
  • Melindungi isi sel agar tidak keluar.
  • Mengatur keluar masuknya berbagai macam zat.
  • Reseptor dari luar, seperti hormon, bahan kimia, rangsangan mekanik, dan rangsangan listrik.
  • 3. Plastida
  • Mengandung DNA, ribosom, sejumlah enzim, dan beberapa jenis protein.
  • Umumnya memiliki zat warna (pigmen), namun ada juga yang yang tidak memiliki zat warna disebut leukoplas. Berdasarkan kandungannya, leukoplas sendiri terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu:
  • Amiloplas, plastida yang mengandung amilum.
  • Proteinoplas, plastida yang mengandung protein.
  • Elaioplas, plastida yang mengandung lemak.
  • Berdasarkan kandungan pigmennya, plastida terbagi menjadi kloroplas dan kromoplas.
  • Kloroplas = plastida yang sebagian isinya merupakan klorofil
  • Kromoplas = plastida yang mengandung pigmen-pigmen dominan selain klorofil seperti pigmen merah, jingga, kuning yang banyak terdapat pada bunga, buah, dan biji.
  • Memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Fotosintesis
  • Mensintesis asam lemak dan terpen.
  • 4. Vakuola
  • Dibungkus oleh selapis membran yang disebut tonoplas.
  • Terdapat beberapa macam senyawa kimia, seperti garam mineral, karbohidrat, asam amino, dan antosianin (pigmen pada bunga).
  • Semakin tua suatu tumbuhan, maka vakuola yang terbentuk semakin besar.
  • Memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan zat cadangan makanan.
  • 5. Badan Golgi/Aparatus Golgi
  • Badan golgi pada tumbuhan disebut diktiosom.
  • Jumlahnya dapat mencapai ratusan pada setiap sel.
  • Berbentuk seperti kantung pipih yang dibatasi oleh membran.
  • Memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Proses sekresi.
  • Membentuk dinding sel.
  • Menghasilkan lisosom.
  • Membentuk akrosom.
  • 6. Ribosom
  • Terletak di dalam RE, sitoplasma, dan nukleolus.
  • Jumlahnya bergantung pada keaktifan sel. Semakin aktif suatu sel, maka jumlahnya akan semakin banyak.
  • Memiliki fungsi sebagai tempat sintesis protein.
  • 7. Retikulum Endoplasma (RE)
  • Terletak di dalam sitoplasma.
  • Berdasarkan keberadaan ribosom, terdapat dua jenis RE, yaitu:
  • Retikulum endoplasma kasar, merupakan RE yang terdapat ribosom. Berperan dalam pembentukan membran dan protein.
  • Retikulum endoplasma halus, merupakan RE yang tidak terdapat ribosom. Berperan dalam pembentukan lemak, menetralisir racun, dan penyimpanan kalsium.
  • Secara keseluruhan memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Tempat pelekatan ribosom.
  • Memperkaya senyawa protein hasil sintesis ribosom.
  • 8. Mitokondria
  • Berbentuk lonjong
  • Dibungkus oleh selapis membran yang terdiri dari membran luar dan membran dalam (krista). Krista memiliki banyak lekukan yang berfungsi untuk memperluas permukaan saat berlangsungnya respirasi.
  • Jumlahnya bervariasi, bergantung pada tingkat metabolisme.
  • Memiliki fungsi sebagai penghasil energi karena terlibat dalam proses respirasi yang bersifat aerob.
  • 9. Mikrotubulus
  • Berbentuk silinder atau tabung yang tidak bercabang dengan diameter 25 nm.
  • Tersusun atas protein tubulin yang terangkai dalam susunan terpilin.
  • Protein tubulinnya terdiri dari alpha-tubulin dan betatubulin.
  • Memiliki fungsi diantaranya untuk:
  • Memberi bentuk sel.
  • Membantuk pengangkutan bahan-bahan di dalam sel.
  • 10. Nukleus (Inti Sel)
  • Ukuran organel lebih besar dibandingkan dengan organel sel lainnya (kecuali dengan vakuola).
  • Berbentuk bulat oval.
  • Bagian nukleus meliputi:
  • Membran inti (karioteka), pembungkus sekaligus pelindung inti.
  • Nukleoplasma, merupakan matriks di dalam nukleus. Mengandung berbagai macam enzim, protein, kromosom, dan nukleolus.
  • Kromatin/kromosom, mengandung DNA.
  • Nukleolus, mengandung banyak kromosom, yaitu benang-benang halus DNA.
  • Memilik fungsi diantaranya untuk:
  • Mengatur semua kegiatan sel.
  • Tempat penyimpanan protein.
  • Tempat penyimpanan informasi genetik.
  • Berperan dalam pembelahan sel.
  • 11. Sitoplasma
  • Koloid yang dapat berubah dari fase sol ke fase gel.
  • Terdiri dari medium semi cair yang disebut sitosol.
  • Meliputi semua substansi yang ada di dalam sel, namun diluar nukleus.
  • Memiliki fungsi sebagai tempat berlangsungnya metabolisme sel.
  • 12. Badan Mikro
  • Berukuran kecil dengan ukuran 0,3 – 1,5 ยต
  • Terbungkus oleh selapis membran yang terdiri dari peroksisom dan glioksisom.
  • PeroksisomGlioksisom
  • Merupakan membran yang dihasilkan RE
  • Mengandung banyak enzim katalase yang berperan dalam metabolisme lemak dan fotorespirasi
  • Mengandung banyak enzim katalase dan oksidase yang berperan dalam metabolisme lemak (mengubah lemak menjadi gula)
  • Energi hasil metabolisme digunakan saat perkecambahan biji
  • Lebih banyak terdapat pada sel hewanLebih banyak terdapat pada sel tumbuhan

    Kontributor: Dinda Muthi Selina, S.Si.Alumni Biologi FMIPA UI

    Organel sel


    Source : https://www.studiobelajar.com/sel-tumbuhan/

    Jumat, 25 Januari 2019

    ✔ Tumbuhan Paku Ciri Ciri Struktur Klasifikasi Metagenesis Daur Hidup Manfaat

    Tumbuhan paku merupakan organisme autotrof yang memiliki kemampuan untuk menyusun zat makanannya sendiri maupun untuk organisme lainnya. Tumbuhan paku atau yang biasa disebut dengan tumbuhan pakis tersebut termasuk ke dalam tumbuhan berkormus atau kormophyta, yaitu jenis tumbuhan yang memiliki akar, batang, dan daun sejati. Spora yang dimiliki tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora, sehingga tumbuhan paku juga dapat disebut sebagai kormophyta berspora. Untuk lebih jelasnya bagaimana ciri, struktur, dan hal lain yang berkaitan dengan kehidupan tumbuhan paku, akan dijelaskan dalam subtopik di bawah ini.

    Ciri-ciri Tumbuhan Paku

    Tidak hanya memiliki akar, batang, dan daun sejati, tumbuhan paku juga memiliki ciri khusus pada bagian-bagian tersebut, yaitu sebagai berikut:

    1. Ciri-ciri Daun Tumbuhan Paku
  • Berbentuk melingkar dan manggulung pada usia muda.
  • Berdasarkan ukuran, daunnya terbagi atas mikrofil (daun berukuran kecil) dan makrofil (daun berukuran besar).
  • Berdasarkan fungsi, daunnya terbagi atas sporofil (daun penghasil spora) dan tropofil (daun untuk fotosintesis). Namun meskipun sporofil, umumnya daun tersebut juga dapat melakukan fotosintesis yang disebut dengan daun troposporofil.
  • Memiliki sorus dibawah permukaan daunnya. Sorus merupakan kumpulan bulatan kecil (spora) yang dilindungi oleh indusium pada usia muda. Di dalam sorus terdapat banyak sporangium yang merupakan tempat pembentukan spora (kotak spora).
  • perbedaan struktur spora, sporangium, dan indusium pada tumbuhan paku

    Perbedaan Struktur Spora, Sporangium, dan IndusiumSumber gambar: fs.fed.us

    2. Ciri-ciri Batang Tumbuhan Paku
  • Batang pada paku sebagian besar tidak terlihat karena berada di dalam tanah, namun ada pula paku yang memiliki batang di permukaan, seperti
  • Terdapat beberapa batang pada paku yang berupa rhizome (belum memiliki batang yang nyata).
  • Memiliki pembuluh atau berkas pengangkut.
  • 3. Ciri-ciri Akar Tumbuhan Paku
  • Akarnya bersifat serabut yang ujungnya dilindungi oleh kaliptra (tudung akar)
  • Struktur Tumbuhan Paku

    Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berpembuluh yang tidak berbiji.

    Daunnya memiliki beberapa bentuk spora, seperti:

  • Paku homospora = menghasilkan jenis dan ukuran spora yang sama. Contoh: paku kawat (Lycopodium)
  • Paku heterospora = menghasilkan jenis dan ukuran spora yang berbeda. Contoh: Selaginella
  • Paku peralihan = menghasilkan ukuran spora yang sama, namun bejenis kelamin jantan dan betina. Contoh: paku ekor kuda (Equisetum)
  • Pertumbuhan batang tumbuhan paku juga memiliki bentuk yang beraneka ragam, seperti:

  • Paku pohon (Cyathea), tumbuhan paku yang memiliki bentuk batang seperti batang pohon palem.
  • Paku kawat (Lycopodium), tumbuhan paku yang memiliki bentuk batang seperti kawat.
  • Batang paku yang berbentuk rhizome akan bercabang dan beruas pendek. Pada rhizome, terdapat akar seperti rambut, yang merupakan akar serabut. Contoh: paku suplir.

    Jenis/Klasifikasi Tumbuhan Paku1. Klasifikasi Tumbuhan Paku Berdasarkan Morfologi Tubuh

    Berdasarkan perbedaan morfologi tubuh, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi empat divisi, yaitu:

    A. Psilophyta
  • Tumbuhan berpembuluh paling primitif, atau disebut juga dengan paku purba.
  • Belum memiliki struktur akar (masih akar rhizome).
  • Umumnya tidak memiliki daun (paku telanjang), namun jika tumbuhan tersebut memiliki daun, bentuknya kecil (mikrofil) dan belum terdiferensiasi.
  • Belum memiliki pembuluh pengangkut.
  • Pada batangnya terdapat sporangium.
  • Spora yang dihasilkan mempunyai jenis dan ukuran yang sama (homospor).
  • Contoh: Psilotum nudum
  • psilotum nudum

    Psilotum nudumSumber gambar: alchetron.com

    B. Lycophyta
  • Batang bercabang seperti kawat, atau disebut juga dengan paku kawat.
  • Tumbuhan epifit (tubuhnya menumpang dengan tumbuhan lain).
  • Daunnya berbentuk seperti rambut sisik, beberapa jenis telah menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan tiang dan bunga karang.
  • Sporangiumnya terkumpul dalam strobilus. Strobilus merupakan kumpulan sporofil yang membentuk struktur kerucut
  • Perbedaan Strobilus dengan Sporofil

    Perbedaan Strobilus dengan SporofilSumber gambar: Roy V. 2018, quora.com

  • Berkas pengangkutnya masih sederhana.
  • Beberapa Lycophyta seperti Lycopodium tidak berfotosintesis, melainkan bersimbiosis dengan jamur.
  • Pada Lycopodium dapat menghasilkan spora tunggal yang nantinya akan berkembang menjadi gametofit yang memiliki organ jantan dan betina atau yang disebut juga dengan paku peralihan, sedangkan pada Selaginella dapat menghasilkan dua spora, yaitu spora kecil (mikrospora) dan besar (makrospora) atau yang disebut juga dengan heterospora.
  • Contoh lain: isoetes
  • selaginella

    Sumber gambar: botit.botany.wisc.edu

    C. Equisetophyta (Sphenophyta)
  • Memiliki banyak daun dengan bentuk seperti kawat dan tersusun melingkar serta batangnya berongga dan beruas seperti ekor kuda, membuat kelompok paku ini disebut dengan paku ekor kuda.
  • Seperti halnya pada Lycophyta, sporangium pada kelompok paku ini juga berada di dalam strobilus.
  • Merupakan kelompok paku peralihan.
  • Contoh: Equisetum debile.
  • tumbuhan paku ekor kuda

    Paku Ekor KudaSumber gambar: indefenseofplants.com

    D. Pterophyta
  • Pterophyta dianggap sebagai paku sejati.
  • Memiliki daun besar (makrofil) dan terdapat sorus dibawahnya dengan ciri khas menggulung pada usia muda.
  • Banyak ditemukan di daerah pegunungan berhawa dingin dan digunakan sebagai tanaman hias.
  • Sporangiumnya terdapat dalam sporofil.
  • Contoh: Azolla pinnata, Adiantum, Asplenium nidus.
  • adiantum sp

    Adiantum sp.Sumber gambar: gobotany.nativeplanttrust.org

    2. Klasifikasi Tumbuhan Paku Berdasarkan Habitat

    Berdasarkan habitat, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi tiga divisi, yaitu:

    A. Paku Tanah

    Merupakan jenis tumbuhan paku yang hidup di tanah atau merayap di permukaan yang terjal.  Contoh: Lindsaya macracana.

    B. Paku Epifit

    Merupakan jenis tumbuhan paku yang hidup menumpang di tumbuhan lainnya, terutama pada pohon. Berdasarkan keterbukaan tempatnya, paku epifit sendiri terbagi lagi ke dalam dua kelompok, yaitu:

  • Epifit terbukaTumbuhan ini tumbuh pada bagian yang terkena sinar matahari langsung atau tahan terhadap hembusan angin. Contoh: Platycerium desvaux.
  • Epifit tertutupTumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon yang terlindungi (tertutup sinar matahari). Contoh: Antrophyum callifolium
  • C. Paku Akuatik

    Berdasarkan keberadaannya di air, paku akuatik terbagi lagi ke dalam tiga kelompok, yaitu:

  • Paku yang mengapung di permukaan air.
  • Contoh: famili Marsileaceae.

  • Paku yang berada di dalam kolom air.
  • Contoh: Acrosticum aureum L.

  • Paku yang berada di daerah pasang-surut.
  • Contoh: Ceratopteris thalictroides.

    Metagenesis Tumbuhan Paku

    Tumbuhan paku mengalami pergantian keturunan atau yang disebut sebagai metagenesis. Metagenesis merupakan pergiliran daur hidup antara generasi yang berkembang biak dengan generatif dan vegetatif. Umumnya morfologi dari kedua generasi tersebut berbeda, sehingga metagenesis tumbuhan paku dapat dikatakan sebagai daur hidup tumbuhan paku yang terdiri dari dua fase, yaitu gametofit dan sporofit.

    Fase ini merupakan fase seksual. Spora akan berkembang menjadi protalium dan menghasilkan sel gamet jantan (spermatozoid) dan betina (sel telur). Hasil pembuahan kedua sel gamet tersebut akan menghasilkan zigot yang diploid. Ciri atau karakteristik fase gametofit, yaitu proses berlangsungnya singkat.

    Fase ini merupakan fase aseksual. Zigot yang dihasilkan pada fase gametofit akan berkembang menjadi tumbuhan paku yang menghasilkan spora dari sporangiumnya. Spora tersebut kemudian dapat dijadikan sebagai sel spora indukan untuk fase atau daur hiudp selanjutnya. Ciri atau karakteristik fase sporofit, yaitu prosesnya berlangsung lebih lama dari fase gametofit.

    metagenesis tumbuhan paku

    Metagenesis Tumbuhan PakuSumber gambar: Ferdinand, F. & M. Ariebowo. Praktis Belajar Biologi. 2009. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: viii + 178 hlm.

    Untuk mengetahui bagaimana daur hidup dari masing-masing jenis paku akan dijelaskan pada subtopik dibawah ini.

    Daur Hidup Tumbuhan Paku

    Daur hidup pada paku homospora, heterospora, dan paku peralihan mengalami perbedaannya masing-masing. Bagaimanakah perbedaan tersebut? Mari kita simak skema dan penjelasan singkat di bawah ini.

    A. Daur Hidup Paku Homosporaskema metagenesis paku homospora

    Skema Metagenesis Paku Homospora..Sumber gambar: Subardi, Nuryani & S. Pramono. 2009. Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: vi + 248 hlm.

    Berikut penjelasan skema metagenesis paku homospora:

  • Gametofit pada tumbuhan paku disebut protalium. Protalium merupakan hasil perkecambahan spora haploid.
  • Protalium kemudian menghasilkan dua gamet berbeda, yaitu anteridium yang menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang menghasilkan sel telur.
  • Spermatozoid dan sel telur yang bertemu kemudian membentuk zigot yang diploid.
  • Zigot kemudian tumbuh dewasa menjadi tumbuhan paku dan memulai fase sporofit.
  • Tumbuhan paku membentuk sporofil melalui sporangium.
  • Sporangium menghasilkan spora yang haploid dengan metode meiosis.
  • Spora tersebut yang kemudian akan menjadi sel spora indukan pada fase gametofit selanjutnya (prosesnya berulang kembali).
  • B. Daur Hidup Paku Heterosporaskema metagenesis paku heterospora

    Skema metagenesis paku heterospora..Sumber gambar: Subardi, Nuryani & S. Pramono. 2009. Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: vi + 248 hlm.

    Perbedaan yang terlihat dengan metagenesis paku homospora, yaitu adanya dua jenis spora dan protalium yang berbeda. Namun bagaimana kita dapat mengetahui perbedaannya secara rinci? Berikut penjelasan skema metagenesis paku heterospora:

  • Pada fase gametofit, spora yang dihasilkan memiliki jenis dan ukuran berbeda, yaitu mikrospora dan makrospora. Mikrospora nantinya akan membentuk mikroprotalium dan menghasilkan spermatozoid pada anteridiumnya, sedangkan makrospora akan membentuk makroprotalium dan menghasilkan sel telur pada arkegoniumnya.
  • Sama halnya dengan metagenesis paku homospora, sel telur dan spermatozoid yang bertemu akan membentuk zigot yang diploid.
  • Zigot kemudian tumbuh menjadi tumbuhan paku dan dapat membentuk dua jenis sporofil yang berbeda, yaitu mikrosporofil dan makrosporofil. Mikrosporofil akan menghasilkan sel indukan betina melalui mikrosporangium dan makrosporofil akan menghasilkan sel indukan jantan melalui makrosporangium. Kedua sel indukan tersebut kemudian akan menjadi sel spora indukan pada fase gametofit selanjutnya (prosesnya berulang kembali).
  • C. Daur Hidup Paku Peralihanskema metagenesis tumbuhan paku peralihan

    Skema Metagenesis Paku Peralihan.Sumber gambar: Subardi, Nuryani & S. Pramono. 2009. Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: vi + 248 hlm.

    Perbedaan yang terlihat dengan metagenesis paku heterospora, yaitu protalium yang dihasilkan pada fase gametofit adalah sama. Namun sporofit yang dihasilkan memiliki jenis indukan yang berbeda (jantan dan betina).

    Manfaat Tumbuhan Paku

    Tumbuhan paku memiliki banyak manfaat yang berperan dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu  diantaranya sebagai:

  • Tanaman hias
  • Bentuknya yang unik membuat tumbuhan paku dapat dijadikan sebagai tanaman hias dan sering kali menjadi incaran pada penghobi tanaman hias. Salah satunya ialah Asplenium nidus atau biasa disebut dengan paku sarang burung. Paku sarang hidup dengan cara menumpang pada tumbuhan lain, namun bukan sebagai parasit.

  • Bahan obat-obatan
  • Terdapat beberapa jenis tumbuhan paku yang dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan, seperti:

  • Pakis haji dapat dijadikan sebagai obat diare.
  • Paku kawat dapat dijadikan sebagai obat pada penyakit kulit.
  • Paku ekor kuda dapat membantu melancarkan buang air besar.
  • Paku rane dapat membantu menyembuhkan luka karena terdapat kandungan antibiotik yang tinggi di dalamnya.
  • Bahan makanan
  • Meskipun tidak semuanya, beberapa jenis tumbuhan paku dapat dikonsumsi oleh manusia contohnya Marsilea crenata atau biasa disebut dengan paku semanggi. Paku semanggi diketahui memiliki banyak nutrisi untuk dikonsumsi. Namun demikian, sebelum mengonsumsi tumbuhan paku, sebaiknya kita perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana ciri atau jenis paku apa yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan agar nantinya tidak membahayakan diri sendiri.

  • Bahan pupuk hijau
  • Paku Azolla pinnata diketahui dapat bersimbiosis dengan ganggang biru, yaitu Anabaena Azollae yang mampu mengikat gas nitrogen bebas yang dapat diserap oleh tumbuhan lain.

  • Sumber energi fosil
  • Tumbuhan paku yang sudah mati akan terdekomposisi kemudian sebagian besar energi yang tersimpan terakumulasi menjadi lapisan karbon di dalam tanah. Lapisan tersebut yang kemudian dapat menjadi batu bara yang dimanfaatkan manusia sebagai sumber energi fosil.

  • Penggosok atau ampelas
  • Paku Equisetum sp. diketahui dapat dijadikan sebagai penggosok karena memiliki kandungan silika yang terkonsentrasi pada bagian batangnya.

    Kontributor: Dinda Muthi Selina, S.Si.Alumni Biologi FMIPA UI

    Materi Biologi SMA :Tumbuhan Paku


    Source : https://www.studiobelajar.com/tumbuhan-paku/