Tampilkan postingan dengan label intrinsik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intrinsik. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

✅ Unsur Intrinsik Puisi Pelajaran Bahasa Indonesia

Unsur Intrinsik Puisi – Pengantar

Jika mendengar istilah “karya sastra”, teman-teman pasti akan membayangkan karya bersifat imajinasi yang bisa tersaji dalam bentuk karangan bebas ataupun tulisan dengan permainan kata dan rima. Karangan bebas kerap disebut sebagai prosa dan terbagi dalam banyak jenis, mulai dari novel, novelet, hingga cerpen. Sementara itu, tulisan dengan permainan kata dan bunyi dikenal dengan istilah puisi.

6 unsur unsur intrinsik puisi

sumber gambar: mycutegraphics.com

Semua karya sastra tentu memiliki unsur pembangunnya, yang di antaranya berupa unsur intrinsik. Namun, ternyata unsur intrinsik puisi maupun prosa cukup berbeda. Jika sebelumnya kita telah membahas unsur intrinsik yang membangun sebuah cerpen, kali ini kita akan membahas unsur intrinsik yang ada pada karya sastra berupa puisi.

Secara umum, unsur intrinsik pada sebuah puisi dapat dibagi menjadi dua, yakni unsur batin dan unsur fisik. Berikut ini adalah ulasan mengenai kedua unsur intrinsik tersebut.

Unsur Batin

Unsur intrinsik yang satu ini sering disebut juga sebagai unsur isi dan mencakup permasalahan dan emosi yang terdapat pada karya sastra tersebut. Berikut adalah beberapa pembagian unsur batin dalam intrinsik sebuah puisi.

  • Tema
  • Sepanjang apa pun puisinya, hanya terdapat satu tema yang dibicarakan. Yang dimaksud dengan tema di sini adalah persoalan ataupun ide utama yang disajikan dalam tulisan tersebut. Sebagai contoh, tema tentang negara, tema tentang cinta, ataupun tema tentang masalah sosial.

  • Amanat
  • Selaras dengan tema, amanat dari sebuah puisi cenderung tidak berbeda jauh dengan tema yang sedang diperbincangkan di dalamnya. Sebagai contoh, ketika mendapati puisi tentang masalah sosial, mungkin saja di dalamnya terdapat amanat mengenai ajakan untuk mengurangi kesenjangan sosial yang semakin melebar.

  • Emosi
  • Dibandingkan dengan prosa, karya sastra dalam bentuk puisi lebih jelas menyampaikan perasaan dari penulisnya. Perasaan tersebut dapat tertuang dalam karya puisinya dan dapat dirasakan oleh teman-teman ketika membacanya. Unsur intrinsik puisi berupa emosi ini biasanya juga menyangkut perasaan pengarang terhadap tema yang sedang dibicarakannya. Contohnya, ada perasaan marah ketika membicarakan korupsi atau ada perasaan sedih ketika membicarakan kemiskinan.

  • Tonasi
  • Ketika menyampaikan perasaan dalam tulisan di puisi, pembaca dapat menangkap tonasi ataupun nada seperti apa yang sedang dipakai oleh penulis. Bisa saja walaupun kecewa, puisi tersebut dikarang dalam bentuk nada yang ringan, namun menyindir. Bisa juga kita menemukan puisi yang seakan mengajak kita untuk mengamini hal yang tertuang di dalamnya. Hal tersebut terjadi karena ada tonasi persuasif di dalamnya.

    Unsur Fisik

    Jika unsur intrinsik puisi berupa unsur batin lebih melihat kepada isi puisi, berbeda dengan unsur fisik yang merupakan unsur pembangun puisi secara struktur. Dalam unsur fisik ini, dapat ditemukan ciri khas sebuah puisi dibandingkan karya sastra berupa prosa.

  • Diksi
  • Teman-teman mungkin merasa puisi terdengar lebih “nyastra” dengan kata-katanya yang tidak umum. Pemilihan kata-kata pada puisi tersebut termasuk dalam unsur intrinsik puisi berupa unsur fisik yang dikenal sebagai diksi.

  • Gaya Bahasa
  • Tidak hanya bermain di pemilihan kata-kata, dalam sebuah puisi akan banyak dijumpai rangkaian kata yang bersifat konotatif, berlebihan, ataupun terkesan merendahkan diri. Inilah yang disebut sebagai gaya bahasa dalam puisi. Biasanya tiap penulis cenderung memiliki gaya bahasanya sendiri, yang paling mudah dilihat melalui majas-majas, seperti personifikasi, metafora, eufemisme, bahkan tak jarang ada yang menggunakan majas ironi.

  • Rima
  • Keunikan lain dalam sebuah puisi adalah ditemukannya kesamaan nada di beberapa bagian baris ataupun larik. Kesamaan nada atau bunyi tersebut disebut dengan istilah rima. Rima bisa dijumpai tidak hanya di akhir tiap larik atau baris, namun dapat juga berada di antara tiap kata dalam baris. Rima yang kuat biasa dijumpai pada jenis-jenis puisi lama atau klasik. Sementara itu, puisi modern biasanya sudah tidak terlalu bermain rima.

  • Tipografi
  • Puisi tidak hanya bermain di kata-kata, melainkan juga di bentuknya. Hal inilah yang dimaksud dengan tipografi, yaitu bentuk puisi secara kasat mata. Secara umum, mungkin teman-teman menemukan puisi dalam bentuk baris, namun ada juga puisi yang disusun dalam bentuk fragmen-fragmen bahkan dalam bentuk yang menyerupai apel, zigzag, ataupun model lainnya.

    Judul Artikel: Unsur Intrinsik PuisiKontributor:Teodora Nirmala Fau, S.Hum.Alumnus Program Studi Bahasa Indonesia UI

    Materi StudioBelajar.com lainnya:

  • Kalimat Majemuk
  • Tajuk Rencana
  • Penulisan Daftar Pustaka
  • Menemukan Unsur-Unsur Pembentuk Puisi


    Source : https://www.studiobelajar.com/unsur-intrinsik-puisi/

    Senin, 07 Januari 2019

    ➤ Unsur Intrinsik Cerpen Tokoh Alur Latar Sudut Pandang Majas Tema

    Unsur Intrinsik Cerpen – Pengantar

    Cerpen atau cerita pendek adalah jenis prosa singkat yang pastinya sudah tidak asing di telinga teman-teman. Jalan cerita yang tidak terlalu panjang dan singkat membuat jenis prosa ini banyak digemari sebab tidak diperlukan waktu lama untuk menuntaskan membacanya. Sama seperti prosa-prosa lainnya, cerpen juga memiliki unsur-unsur yang membangun, yang terbagi menjadi dua, yakni unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen.

    unsur intrinsik cerpen

    sumber gambar: slideshare.net

    Dalam materi kali ini, kita membahas unsur intrinsik cerpen yang merupakan unsur-unsur pembangun sebuah prosa yang bisa dijumpai dalam ceritanya.

    Secara umum, setiap membaca cerpen, kalian akan menemukan enam unsur pembentuk cerita seperti di bawah ini.

    1. Tokoh dan Penokohan

    Setiap cerita pasti memiliki tokoh-tokoh yang menjadi pemain di dalamnya. Tidak hanya menjadi tokoh yang diam, pemain-pemain dalam sebuah prosa memiliki sikap dan peran dalam membentuk cerita. Karena itulah, unsur instrinsik cerpen berupa tokoh dan penokohan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

    Ketika menemukan seorang tokoh dalam cerita, secara tidak langsung kamu akan digiring untuk mengetahui peran dan sikapnya dalam suasana yang hendak dibangun pada cerpen tersebut. Sikap dan peran tersebutlah yang disebut sebagai penokohan, sementara nama-nama dari tiap pemain disebut sebagai tokoh.

    2. Alur

    Sebagian orang sulit membedakan alur dengan jalan cerita. Padahal, simpelnya, alur adalah rangkaian cerita yang memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas) sehingga membentuk suatu kesatuan. Sementara itu, jalan cerita hanyalah rangkaian cerita yang berbentuk kronologis dari awal sampai akhir, tanpa disertai hubungan kausalitas yang kuat.

    Secara sederhana, alur memiliki beberapa tahapan, mulai awalnya pengenalan, konflik, komplikasi (kerumitan), klimaks, leraian, sampai pada penyelesaian. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing bagian alur.

    a. Pengenalan

    Pada tahap ini, pembaca dikenalkan pada tokoh, penokohan, hingga latar sebuah cerita.

    b. Konflik

    Setelah itu, pembaca akan dihadapkan pada bagian cerita yang menampilkan masalah utama dari kisah. Masalah bisa menyangkut persoalan dalam diri sang tokoh, perselisihan dengan tokoh lain, sampai antara satu tokoh dan lingkungannya. Untuk cerpen, biasanya hanya ada satu konflik yang membangun kisahnya.

    c. Klimaks

    Ketika masalah sudah mencapai puncaknya, itulah yang dikenal dengan istilah klimaks. Di tahap ini pembaca bisa mendapatkan puncak ketegangan dari persoalan yang diusung pengarang.

    d. Leraian

    Setelah mencapai puncak, persoalan akan menemui titik balik yang cenderung menurun. Tingkat ketegangan berkurang karena masalah sedang menuju pada tahap akhir.

    e. Penyelesaian

    Tahap akhir yang dimaksud adalah penyelesaian. Pada bagian ini, semua masalah diuraikan dan didapati solusinya. Namun, ada juga cerpen yang membuat penyelesaiannya secara terbuka sehingga bagian solusi tidak diceritakan.

    Kelima bagian alur di atas tidak mesti terjadi secara berurutan. Apalagi pada cerpen-cerpen modern, kamu bisa saja menjumpai kisah yang dimulai dari klimaks dan berujung pada klimaks juga.

    Selain memiliki tahapan, alur sebuah cerita juga memiliki jenisnya masing-masing. Secara umum, ada tiga jenis alur yang bisa ditemukan pada cerpen.

    a. Alur Maju

    Pada model alur ini, cerita dijabarkan secara kronologis dan mengikuti ketentuan waktu yang selalu bertambah. Untuk cerita dengan alur maju, tahapan alurnya cenderung konvensional, yaitu pengenalan-konflik- klimaks, leraian-penyelesaian.

    b. Alur Mundur

    Model alur ini biasanya menampilkan konflik atau penyelesaian terlebih dahulu. Dari sana, barulah diceritakan ulang mengenai tahapan masalah yang membentuk alur sehingga terkesan waktunya bergerak mundur dan disebut sebagai alur mundur.

    c. Alur Kilas Balik (Flash Back)

    Alur kilas balik merupakan penggabungan alur maju yang disertai kilasan-kilasan kisah yang sifatnya mengenang atau mengingat. Kenangan ini diceritakan pula secara detail untuk membangun kelengkapan cerita.

    3. Latar

    Unsur intrinsik cerpen yang satu ini sering disebut sebagai setting dan mencakup tiga hal di dalamnya, yakni latar waktu, latar tempat, dan latar suasana yang membangun sebuah peristiwa. Pada intinya, latar merupakan gambaran suasana yang terjadi pada sebuah cerita.

    a. Latar Waktu

    Menggambarkan kapan peristiwa dalam kisah tersebut terjadi.

    b. Latar Tempat

    Menggambarkan di mana dan lokasi tempat terjadinya peristiwa.

    c. Latar Suasana

    Menggambarkan cara peristiwa itu terjadi dan perasaan yang dialami para tokoh.

    4. Sudut Pandang

    Sudut pandang merupakan bagian unsur intrinsik cerpen yang menjelaskan pencerita yang mengisahkan cerpen tersebut. Dalam prosa, umumnya ada dua jenis sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

    a. Sudut Pandang Orang Pertama

    Model sudut pandang yang satu ini biasa diceritakan oleh kata ganti orang pertama, yaitu “aku”. Pencerita sebagai aku bisa memiliki dua peran, yakni dia sebagai pemeran utama cerita tersebut ataupun dia hanya sebagai pengamat dari tokoh-tokoh lain yang diceritakannya.

    b. Sudut Pandang Orang Ketiga

    Sudut pandang yang memakai orang ketiga ditandai dengan penggunaan kata ganti “dia” untuk menunjuk para tokoh yang bermain dalam cerita. Model sudut pandang ini juga dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah sudut pandang orang ketiga sebagai narator serbatahu yang bisa menjelaskan isi hati dan rahasia dari peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Yang kedua adalah sudut pandang orang ketiga sebagai tokoh bawahan yang berfungsi sebagai pengamat.

    5. Gaya Bahasa dan Penceritaan

    Dalam sebuah cerpen, kamu akan menemukan banyak kiasan ataupun bahasa yang terkesan lebih lembut atau lebih kasar. Inilah yang disebut sebagai gaya bahasa. Setiap pengarang memiliki gaya bahasa yang berbeda dan ini juga berhubungan dengan penceritaan yang dibangunnya pada sebuah cerpen.

    Gaya bahasa biasanya berbentuk majas untuk merefleksikan atau mengasosiasiakan sebuah kalimat. Ada juga gaya bahasa yang menampilkan makna-makna konotatif untuk memperindah tampilan cerita.

    6. Tema dan Amanat

    Tema sebuah cerita akan selalu berhubungan dengan amanat yang hendak disampaikan oleh pengarah dalam pengisahannya. Jadi, sulit untuk memisahkan kedua unsur ini guna berdiri sendiri-sendiri.

    Meskipun berkaitan, tema dan amanat memiliki arti yang berbeda sebagai unsur intrinsik cerpen. Tema adaah gagasan dasar yang ada dalam sebuah cerita. Sebagai contoh ketika membaca cerpen tentang perayaan Hari Pahlawan, kamu akan menemukan ide cerita yang mengangkat masalah nasionalisme ataupun sikap rela berkorban.

    Sementara itu, amanat merupakan nilai-nilai yang bisa dipetik dalam kisah yang dibaca. Nilai tersebut akan selalu berhubungan dengan tema yang mendasari cerpen tersebut. Contohnya lagi, masih dengan cerpen tentang perayaan Hari Pahlawan, kamu bisa menemukan pesan untuk mencintai tanah air ataupun untuk selalu mengenang jasa para pahlawan.

    Judul Artikel: Unsur Intrinsik CerpenKontributor:Teodora Nirmala Fau, S.Hum.Alumnus Program Studi Bahasa Indonesia UI

    Materi StudioBelajar.com lainnya:

  • Pengertian Paragraf dan Jenisnya
  • Kalimat Majemuk Setara Bertingkat Campuran
  • Resensi
  • Cerpen dalam Antologi: Menemukan tema, alur dan penokohan dalam cerpen - Bahasa Indonesia SMP


    Source : https://www.studiobelajar.com/unsur-intrinsik-cerpen/